Wednesday, May 18, 2005

Jakarta, May 18, 2005 – Peserta Citos 10 K, Gede Kurniawanti Karim didampingi oleh penulis akhirnya berhasil mencapai garis finish setelah berjalan sepanjang 10 kilometer dari Kemang Selatan menuju Citos. Perjalanan diawali dari gedung Haery kemang dengan garis akhir di Cilandak Town Square. Perjalanan sepanjang 10 kilometer ditempuh selama satu jam lima belas menit dengan mengambil rute Kemang selatan raya, puri mutiara, gaharu, mpr, BDN dan cilandak tengah.

Citos 10K diselenggarakan karena peserta merasa perlu membuktikan bahwa Jakarta yang indah ini memang sudah tidak memiliki ‘trotoar’ yang memadai untuk kenyamanan pejalan kaki. Hal ini terbukti karena kedua peserta harus berebut wilayah jalan dengan bajaj, motor, mobil pribadi KWK, dan bahkan tukang sayur yang mau pulang (atau mau ke pasar lagi ya?!) serta tukang sate. Citos 10K juga diselenggarakan sebagai pengganti aktifitas olah raga yang biasanya dilakukan peserta tapi tidak pernah kejadian karena selalu hujan atau alasan-alasan lain yang tidak dapat dirinci satu per satu.

Banyak pengalaman yang kami dapatkan selama perjalanan tersebut. Seperti: bila anda sedang mengendarai sepeda motor dan sepertinya melihat seseorang yang anda kenal, sebaiknya anda yakinkan dulu bahwa mereka anda kenal sebelum anda menyapa mereka, karena peserta sempat disapa orang yang merasa kenal dengan peserta tapi sepertinya harus menanggung malu sendirian karena kami lalu melihat ke orang tersebut dengan pandangan heran, bingung, kaget dan sedikit jijay. Ternyata di Jakarta ini banyak sekali rumah-rumah yang bagus tapi tidak dihuni. Penghuni lebih memilih untuk menjual atau menyewakan rumah tersebut. Mungkin pemilik rumah juga lebih memilih tinggal di apartemen dan rumah mewah & nyaman itu lebih baik untuk para sekuriti mereka.

Dari aktivitas napak tilas ini dapat juga ditarik beberapa kesimpulan, yaitu: sudah waktunya Jakarta memiliki trotoar yang proper bagi pejalan kaki, sebaiknya perjalanan dilakukan sore hari, sebaiknya membawa senter dan perlengkapan lain untuk menghindari kejeblos ke dalam selokan karena tidak dikasih jalan oleh pemakai jalan lainnnya seperti bajaj. Sebaiknya alat penerangan yang dipilih adalah yang tidak perlu anda pegang karena akan semakin sulit bagi anda untuk megang senter sambil pegangan tembok karena gak dikasih jalan. Alat-alat perlindungan diri seperti pisau, pistol atau double stick sangat dianjurkan karena maraknya gangguan-gangguan sepanjang jalan, walaupun masih dalam skala siulan.

Demikian yang ingin kami laporkan dan semoga kegiatan-kegiatan seperti ini akan terus ada hingga pada akhirnya gubernur DKI (moga-moga ada yang baru & moga-moga masih kerabat) akan menyadari betapa perlunya trotoar itu dan betapa perlunya olah raga berjalan kaki itu. Selain murah, lebih banyak pengalaman yang didapat juga penuh tantangan!

Bagi anda yang tertarik mengikuti aktifitas ini silakan hubungi panitia (yang detail contactnya akan diumumkan dalam waktu dekat) dan persiapkan nyali, kenekatan, kekuatan betis, dan sepatu yang gak bikin lecet!!!!!

Kesimpulan akhir adalah: Don’t ever under estimate us & Kemang – Citos gak ada apa-apanya!!!!!!!!

Penulis:
Konsultan komunikasi yang nekat ingin membuktikan kata-kata peserta Kurnia yang mengatakan gak takut jalan Kemang-Citos; tapi dibilang “ibu-ibu gila” oleh “opa-opa ompong”!!!!!

No comments: